Instagram

Bergantung Kepada Pimpinan Allah

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. (Ibrani 11:8)

Pernah Anda “berangkat” dengan cara demikian? Jika pernah, maka tidak ada jawaban masuk akal yang dapat diberikan bila seseorang menanyai Anda tentang hal yang sedang Anda lakukan. Salah satu pertanyaan tersulit untuk dijawab dalam kekristenan adalah, “Apakah yang Anda harapkan untuk Anda lakukan?” Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan. Yang Anda katahui hanyalah bahwa Allah mengetahui tindakan yang di lakukan-Nya. Sebaiknya Anda terus memeriksa sikap Anda terhadap Allah untuk melihat apakah Anda bersedia “berangkat” dalam setiap segi kehidupan sambil percaya kepada Allah sepenuhnya. Sikap inilah yang membuat kita terus merasa kagum, karena kita tidak mengetahui tindakan yang akan dilakukan Allah selanjutnya. Setiap kita bangun pagi, ada kesempatan baru untuk “berangkat” sambil membangun keyakinan kita kepada Allah. “Janganlah kuatir tentang hidupmu…dan jangan kuatir pula tentang tubuhmu” (Lukas 12:22). Dengan kata lain, janganlah kuatir mengenai hal-hal yang Anda risaukan di tahun ini, “berangkat” dan percayalah kepada Allah.

Sudahkah kita bertanya kepada Allah tentang tindakan yang akan dilakukan-Nya? Dia tidak pernah memberi tahu kita tentang hal yang akan dilakukan-Nya. Dia menyatakan diri-Nya kepada kita. Apakah kita percaya kepada Allah yang dapat mengerjakan mujizat? Dia melihat apakah kita mau “berangkat” dalam penyerahan total kepada-Nya sampai kita sama sekali tidak merasa heran akan apa pun yang dilakukan-Nya?

Percayalah bahwa Allah yang kita kenal itu tidak pernah berubah bila kita berada dekat kepada-Nya. Kemudian pikirkanlah betapa tidak perlu dan tidak sopannya sikap kuatir itu! Biarlah kita selalu bersedia untuk “berangkat” dalam ketergantungan kepada Allah, maka hidup kita akan memiliki suatu pesona yang kudus dan tidak terungkapkan, yang sangat memuaskan Yesus. Kita harus belajar “berangkat” melalui keyakinan, pengakuan iman, atau pengalaman kita sampai mencapai tingkat iman yang bebas hambatan antara kita dan Allah. Amin.

Share! jika renungan ini memberkatimu.