Instagram

Diri Yesus yang Sebenarnya

Sepertinya hampir semua orang memiliki ekspektasi, atau kepalsuan diri, yang ingin dipaksakan pada kehidupan Yesus. Ketika Ia setia pada diriNya yang sebenarnya, Dia telah mengecewakan banyak orang. Yesus aman dalam kasih Bapa-Nya, dalam diri-Nya, dan karena itu mampu bertahan menghadapi tekanan yang sangat besar. Dia meninggalkan keluarga aslinya dan semua harapan mereka sebagai anak tukang kayu dan menjadi orang dewasa yang berbeda dan diarahkan oleh batinnya sendiri. Hasilnya, Dia mengecewakan keluarga-Nya. Pada suatu kejadian, ibu dan saudara-saudaraNya mengiria Dia sudah gila (Mrk 3:21)

Dia mengecewakan orang-orang di tempat Dia bertumbuh, di Nazaret. Ketika Yesus menyatakan siapa Dia yang sebenaranya, yaitu Mesias, mereka berusaha mendorongnya ke jurang (Luk 4:28-29). Dia tetap yakin akan kepercayaan-Nya, meskipun orang banyak mengamuk di kota kelahirannya.

Dia mengecewakan teman-teman terdekatNya, kedua belas muridNya. Mereka memproyeksikan gambaran mereka sendiri tentang Mesias kepada Yesus. Dan gambaran tersebut tidak memasukkan akhir yang memalukan dari hidup-Nya. Mereka lari meninggalkan-Nya. Yudas, salah satu orang terdekatnya, “menusuk diri dari belakang” yang menunjukkan dirinya yang sebenaranya. Tetapi meskipun mereka salah mengerti tentang-Nya, Yesus tidak pernah menyalahkan mereka

Dia mengecewakan para pemimpin agama. Mereka tidak suka dengan kehadiran Yesus yang mengganggu kehidupan sehari-hari mereka atau teologi mereka. Mereka akhirnya menyamakan kuasa-Nya dengan kuasa setan. Namun Yesus bisa tetap stabil di  tengah tekanan yang besar itu.

Yesus tidak hidup sendiri. Dia tidak hidup seola-olah hanya buat orang lain. Dia tahu nilai dan harga diri-Nya. Dia mempunyai teman. Dia minta orang lain menolong diriNya. Pada saat yang sama Yesus tidak egois. Dia tidak hidup seolah-olah orang lain tidak dianggap. Dia memberi hidup-Nya karena kasihnya kepada banyak orang.  Dari kesatuan kasihNya dengan BapaNya, Yesus memiliki “diri yang sebenarnya” yang sehat dan dewasa”.

Tekanan bagi kita untuk menjalani hidup yang bukan hidup kita sendiri sangatlah besar. Kekuatan-kekuatan yang diwariskan turun-temurun sangat kuat dan peperangan rohani bekerja melawan kita. Namun hidup secara setia terhadap diri kita yang sebenaranya dalam Kristus mewakili salah satu tugas besar dari pemuridan.

 

Share! jika renungan ini memberkatimu.