Instagram

Kemiskinan Dalam Pelayanan

Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? (2 Korintus 12:15)

Kasih manusia biasanya mengharapkan suatu imbalan. Akan tetapi Paulus menyatakan, “Tidaklah menjadi soal bagiku apakah kamu mengasihiku atau tidak. Aku bersedia untuk menjadi miskin, bukan demi kamu saja, melainkan juga agar aku dapat membawa kamu kepada Allah.” “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa sekali pun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin…” (2 Korintus 8:9). Dan gagasan Paulus tentang pelayanan sama seperti gagasan Tuhan kita. Dan tidak peduli besarnya resiko yang harus ditanggungnya – dia akan menanggungnya dengan senang hati. Itu merupakan sukacita bagi Paulus.

Gagasan seorang hamba Allah tentang kelembagaan gereja sama sekali tidak sama seperti gagasan Yesus Kristus. Gagasan-Nya adalah bahwa kita melayani Dia dengan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus Kristus sebenarnya lebih bersifat sosial ketimbang kaum sosialis. Dia berkata bahwa dalam kerajaan-Nya orang yang terbesar itu menjadi pelayan bagi semua (Matius 23:11). Bukti dari sesungguhnya dari seorang kudus bukanlah kesediaannya memberitakan Injil, malainkan untuk melakukan hal-hal yang tampaknya tidak penting dalam penilaian manusia, namun berarti segala-galanya bagi Tuhan.

Paulus senang mengorbankan hidupnya bagi perhatian Allah terhadap orang lain, dan dia tidak peduli apa pun resikonya. Akan tetapi, sebelum kita mau melayani, kita berhenti sejenak untuk merenungkan kepedulian pribadi kita – “Bagaimana jika Allah menghendaki aku pergi ke sana? Bagaimana dengan gajiku? Bagaimana iklimnya di sana?  Siapa yang akan mengurusku? Seseorang harus mempertimbangkan semua hal ini. “Semua ini merupakan pertanda bahwa kita menetapkan syarat-syarat dalam melayani Allah. Akan tetapi, rasul Paulus tidak mempunyai syarat atau keberatan. Paulus memusatkan kehidupannya pada gagasan Yesus Kristus tentang seorang kudus dari Perjanjian Baru – yaitu bukan seorang yang semata-mata memberitakan Injil, melainkan seorang yang menjadi roti yang dipecahkan dan anggur yang dicurahkan di tangan Yesus Kristus demi kepentingan orang lain. Amin.

 

*image by : http://www.erabaru.net/2017/06/09/manusia-adalah-makhluk-sosial-setujukah-anda/artikel-5/

Share! jika renungan ini memberkatimu.