Instagram

Kepatuhan Terhadap Tuhan

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. (Yohanes 13:13)

Tidak pernah Tuhan memaksakan kehendak atau wewenang-Nya terhadap kita. Dia tidak pernah mengatakan; “Kamu harus tunduk kepada-Ku.” Tuhan memberikan kita kehendak sebebas-bebasnya untuk memilih. Sedemikian bebasnya kita diberi kebebasan sehingga kita dapat meludahi wajah-Nya atau membunuh Dia, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang lain; namun Tuhan tidak akan pernah mengucapkan sepatah kata pun. Akan tetapi, segera setelah hidup-Nya diciptakan di dalam setiap orang melalui penebusan-Nya , maka kita segera menyadari hak-Nya untuk menjalankan kekuasaan-Nya atas diri kita. Itu merupakan penguasaan yang lengkap dan berhasil, yang di dalamnya kita mengaku “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak…” (Wahyu 4:11). Ketidaklayakan dalam diri kitalah yang menolak untuk tunduk kepada Dia yang layak. Bila kita menjumpai seseorang yang lebih suci dari kita, dan kita tidak mengenal kelayakkannya, atau tidak mematuhi perintahnya kepada kita, maka itu merupakan ungkapan ketidaklayakan kita sendiri. Allah mengajari kita dengan menggunakan orang-orang yang lebih suci dari kita. Dia terus-menerus berbuat demikian sampai kita bersedia untuk tunduk. Kemudian seluruh sikap hidup kita merupakan sikap kepatuhan kepada-Nya.

Jika Tuhan memaksakan kepatuhan kita, Dia hanya akan menjadi seorang mandor dan tidak lagi mempunyai wewenang sejati. Dia tidak tidak pernah memaksakan kepatuhan, tetapi jika kita benar-benar melihat Dia maka kita akan segera mematuhi-Nya. Kemudian Dia dengan mudah menjadi Tuhan atas hidup kita, dan kita akan mengagumi Dia siang dan malam. Tingkat pertumbuhan kita dalam anugerah dinyatakan oleh cara kita menilai kepatuhan. Kita seharusnya mempunyai penilaian lebih tinggi pada kata kepatuhan. Kepatuhan hanya mungkin tumbuh di antara orang-orang yang sederajat dalam hubungan mereka; seperti hubungan antara ayah dan putranya, bukan antara majikan dan pelayannnya. Yesus menunjukkan hubungan ini dengan mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5:8). Putra Allah patuh sebagai penebus kita, karena Dia adalah seorang Putra Allah, bukan supaya Dia menjadi Putra Allah. Amin.

*image by : https://pondokibu.com/menumbuhkan-kepatuhan-anak.html

Share! jika renungan ini memberkatimu.