Instagram

Ketika Tuhan Terasa Jauh

Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?

(Ratapan 5:20)

Hal terberat yang mungkin harus ditanggung seseorang dalam kehidupan adalah hilangnya kehadiran Allah yang dapat dirasakan, perasaan bahwa Dia tidak hadir lagi. Secara intelek, setiap orang tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi, tetapi jiwa kita tidak mendapat penghiburan hanya dari fakta ini saja. Dan yang membuat situasi lebih buruk adalah bahwa aktivitas-aktivitas yang kita lakukan seperti doa, membaca Alkitab, bersekutu dengan orang Kristen lain tidak mampu memberikan perbedaan yang besar. Merasa bahwa Allah menyembunyikan diri karena dosa yang kita lakukan adalah satu masalah tetapi merasa bahwa Dia menyembunyikan diri tanpa penjelasan apapun adalah masalah lain.

Salah satu yang kita syukuri dari orang tua kita adalah ketika kita masih kecil mereka mendorong kita untuk membaca kisah orang Kristen terkenal, seperti John Bunyan, Mary Slessor, Si Pendoa Hyde (Praying Hyde) dan lain-lain. Cukup menyedihkan bagi kita karena sekarang orang-orang muda zaman sekarang tidak diisi dengan bacaan-bacaan semacam itu. Kisah Batman lebih seru dibandingkan kisah Bunyan, dan kisah Madonna lebih menarik daripada kisah Mary Slessor. Zaman sekarang lebih tertarik membaca koran daripada membaca Alkitab.

David Brainerd, seorang misionaris terkenal dikalangan bangsa Indian di Amerika Utara, berbicara tentang “malam kelam jiwa” yang dialaminya. Di sebuah perpustakaan pribadi saya temukan ini: “Aku tidak mempunyai teman Kristen yang dengannya aku dapat mengungkapkan pergumulanku, atau kesedihan dalam jiwaku, dan saling mendoakan. Tetapi yang lebih sulit untuk ditanggung adalah bahwa Allah menyembunyikan wajah-Nya dari hadapanku.” Lebih dari sekali dia berseru: “Oh! Aku berkabung untuk hadirnya hadirat Allah.”

Untuk percaya kepada Tuhan dalam kegelapan yang demikian, untuk terus maju tanpa dapat memandang kepada-Nya, untuk terus melayani bahkan ketika rasa nyaman lenyap, tampaknya tidak mungkin namun kebenaran yang sesungguhnya ialah: banyak orang telah menjalaninya. Di dalam kegelapan, mereka mempercayai apa yang mereka peroleh di dalam terang kebenaran Allah di dalam Kristus. Jadi perlu iman di dalam hal ini. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15).

 

*iamge by : http://tririaningsih.blogspot.com/2013/12/ketika-tuhan-terasa-jauh.html

Share! jika renungan ini memberkatimu.