Instagram

Bertahan dari Badai

Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abadi. — Amsal 10:25

Kita semua mengalami cobaan dalam hidup. Itu mungkin cobaan kesehatan, cobaan hubungan, cobaan keuangan, atau cobaan emosional, tetapi semua kesulitan dan kesulitan kita akhirnya menjadi cobaan spiritual juga.

Di mana Tuhan saat sakit? Mengapa Tuhan membiarkan kita menghadapi pergumulan dan badai kehidupan? Alkitab tidak pernah menjanjikan bahwa kita akan dapat menjalani hidup tanpa menghadapi badai dan kemunduran. Tidak ada janji bahwa hidup akan mudah, atau sederhana, atau mulus.

Namun demikian, Tuhan berjanji untuk selalu menyertai kita. Melalui badai kehidupan Dia akan menjadi sauh kita. Dan cara terbaik untuk menguji kekuatan sebuah jangkar adalah dengan menahan badai.

Yesus mengajarkan bahwa siapa pun yang mengikuti ajaranNya adalah “seperti orang bijak yang membangun rumahnya di atas batu karang” (Matius 7:24-27): ketika badai besar datang, rumah itu tidak roboh; itu dibangun di atas fondasi yang kokoh.

Demikian pula, Amsal memanggil kita untuk membangun hidup kita di atas hikmat dan kebenaran—yaitu, memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita melakukan itu, kita akan berlabuh dengan aman dan mampu menanggung badai kehidupan.

Dengan Tuhan sebagai landasan kita, kita dapat berdiri teguh, percaya bahwa takdir kita aman di tangan-Nya.

Share! jika renungan ini memberkatimu.