Instagram

Iman Bukan Perasaan

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. (2 Korintus 5:7)

Untuk beberpa saat, kita menyadari sepenuhnya akan perhatiaan Allah terhadap kita. Tetapi kemudian, bila Tuhan mulai memakai kita dalam pekerjaan-Nya, kita mulai menunjukkan wajah untuk dikasihani dan hanya berbicara tentang pencobaan dan kesulitan kita. Dan sepanjang waktu Allah berusaha menyuruh kita melakukan pekerjaan kita seperti sosok tersembunyi yang tidak mendapat sorotan. Tidak seorang pun dari kita yang mau tersembunyi secara rohani jika kita dapat mencegahnya. Dapatkah kita melakukan pekerjaan kita bila tampaknya Allah telah menutup pintu surga? Sebagian dari kita selalu ingin menjadi orang kudus yang bersinar cemerlang dengan lingkaran cahaya keemasan di kepala dan dengan pancaran ilham terus-menerus, dan para pemercaya lain sepanjang waktu berurusan dengan kita. Seorang kudus yang yakin akan dirinya sendiri tidak berharga bagi Tuhan. Dia tidak normal, tidak layak untuk hidup sehari-hari, dan sama sekali tidak seperti Allah. Kita hidup di sini, untuk melakukan pekerjaan dunia ini. Dan kita harus melakukannya dengan kuasa yang lebih besar agar bertahan dalam perjuangan karena karena kita telah dilahirkan dari atas.

Jika kita terus-menerus berusaha mendatangkan kembali saat-saat ilham ynag istimewa, itu merupakan tanda bahwa bukan Tuhan yang kita inginkan. Kita menjadi terobsesi dengan saat-saat Allah datang dan berbicara kepada kita, dan kita mendesak agar Dia melakukannya lagi. Akan tetapi, yang dikehendaki Allah adalah kita harus “berjalan dengan iman”. Berapa banyak diantara kita yang telah keluar gelanggang seolah-olah berkata, “Aku tidak berbuat apa-apa lagi sampai Allah memperlihatkan diri kepadaku.” Dia tidak akan pernah melakukannya. Kita harus bangkit sendiri, tanpa ilham dan jamahan Allah. Kemudian kita menjadi sadar dan berseru, “Dia hadir sepanjang waktu dan aku tidak pernah mengetahuinya!” Jangan sekali-kali hidup hanya untuk saat-saat yang luar biasa itu. Tuhan akan memberi kita jamahan ilham-Nya hanya Dia melihat bahwa kita tidak dalam bahaya terhanyut oleh jamahan itu. Jangan menganggap saat-saat ilham kita sebagai tolok ukur kehidupan – pekerjaan kita itulah tolok ukur kita. Amin.

 

*image by : http://www.vidadivinadistributor.com/wp-content/uploads/2016/06/Rock-jumping-to-success-350×200.jpg

Share! jika renungan ini memberkatimu.