Instagram

Iman Yang Benar Harus Disertai Pengertian Yang Benar

Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. (Kejadian 22:8)

Abraham adalah bapa orang beriman, bapa kita semua. Kita ingat ketika Tuhan meminta ia menyembelih Ishak anaknya sebagai korban bakaran? Betapa kita kagum akan iman dan ketaatannya. Akan tetapi bila kita teliti lebih jauh, sesungguhnya iman Abraham adalah iman yang sederhana, iman yang disertai pengertian.

Iman yang benar harus disertai dengan pengertian, yaitu yang benar tentang Allah. Bila kita memiliki pengertian  yang benar tentang Allah, maka kita pun dapat mempraktekkan iman Abraham. Alkitab mengatakan bahw Tuhan memperhitungkan iman Abraham itu sebagai sebuah kebenaran (Roma 4:22). Abraham telah berpikir dan berpendapat benar tentang Allah. Abraham mengenal Allah dengan benar seutuhnya. Karena itu ia percaya penuh kepada Allah. Percaya bukan saja kepada kemahakuasaan-Nya, tetapi juga percaya kepada kebaikan-Nya, terutama percaya penuh pada kesetiaan-Nya atas janji-jani-Nya.

Percaya kepada Allah adalah kebenaran. Tidak percaya kepada Allah adalah suatu kesalahan, bahkan sebuah kebodohan. Dia adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada. Dari yang tidak ada, dibuat-Nya menjadi ada. Itu adalah sebuah fakta, sebuah kebenaran. Dia suci, adil dan benar, tidak ada kecurangan pada-Nya. Dia berkuasa, bahkan mahakuasa melakukan segala rencana dan ucapan-Nya. Tidak ada perkara yang mustahil bagi Dia.

Ketika Abraham diminta untuk menyerahkan anaknya Ishak, anaknya yang satu-satunya, Abraham mengingat bagaimana Tuhan telah melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tuhan telah membuat Sara, istrinya yang mandul itu melahirkan seorang anak dimasa tuanya. Abraham ingat bagaimana Tuhan telah janji dan menempati janji-Nya itu.

Karena itu, ketika Tuhan meminta dia untuk menyembelih anak-nya Ishak, logika, atau lebih tepatnya akal sehat Abraham mengatakan, BukankahTuhan sendiri yang telah berjanji bahwa Ia akan membuat aku menjadi bangsa yang besar? Bukankah Tuhan sendiri yang telah memilih Ishak dan menolak Ismael?” (Kej. 17:18-22). Berdasarkan semua hal-hal itu, Abraham tidak percaya bahwa Tuhan akan mengingkari janji-Nya dan merusak rencana-Nya sendiri.

 

*image by : http://www.kesaksian.org/nun-di-bukit-yang-jauh/#.Ws2Q-Jq-kdU

Share! jika renungan ini memberkatimu.