Instagram

Kasih Yang Spontan

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

(1 Korintus 13:4)

Kasih itu tidak direncanakan – kasih itu bersifat spontan; timbul dalam cara-cara yang luar biasa. Tidak ada suatu kepastian yang dapat dalam uraian Paulus tentang kasih. Kita tidak dapat menentukan sebelumnya tentang pikiran dan tindakan kita dengan berkata, “Kini aku tidak akan pernah memikirkan pikiran-pikiran buruk, dan aku akan mempercayai apa pun yang dikehendaki Yesus untuk kupercayai.” Tidak, sifat kasih itu spontan. Kita tidak dengan sukarela menetapkan pernyataan Yesus sebagai tolak ukur kita, dengan tolak ukur-Nya bahkan tanpa menyadarinya. Dan bila kita melihat ke masa lalu, kita merasa heran betapa tidak pedulinya kita atas emosi kita, dan hal ini merupakan bukti bahwa kasih spontan yang sejati itu memang ada. Sifat dari segala sesuatu yang terlibat dalam kehidupan Tuhan di dalam kita hanyalah dipahami bila kita telah mengalaminya; dan itu ada di masa lalu kita.

Pancaran yang mengalirkan kasih itu ada dalam Tuhan, bukan dalam diri kita. Sungguh konyol untuk menyangka bahwa kasih Tuhan itu secara alami ada di dalam hati kita, sebagai akibat dari sifat kita sendiri. Kasih-Nya ada di dalam kita karena “telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus…” (Roma 5:5).

Jika kita berusaha membuktikan kepada Tuhan betapa kita mengasihi Allah, maka itu merupakan bukti bahwa sesungguhnya kita tidak mengasihi Dia. Bukti kasih kita kepada-Nya adalah spontanitas mutlak dari kasih kita, yang mengalir secara alami sifat-Nya di dalam kita. Dan bila kita melihat kembali ke masa lalu, kita tidak sanggup menentukan mengapa kita melakukan sesuatu, tetapi kita mengetahui bahwa kita melakukannya menurut spontanitas kasih-Nya di dalam kita. Kehidupan-Nya dinyatakan dalam cara yang spontan karena pancaran kasih-Nya ada di dalam Roh Kudus. Amin.

 

*image by : https://media.licdn.com/mpr/mpr/p/1/005/0ac/32a/2d623a2.jpg

Share! jika renungan ini memberkatimu.