Instagram

Kekuatiran

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:27)

Kekuatiran sama dengan si pencuri sukacita. Ada satu kebiasaan yang paling merusak yang menjerat manusia; banyak orang mengganggapnya sebagai hal yang alami seperti bernafas, dan tidak berbahaya seperti mengedipkan mata. Kebiasaan itu yang bernama kekuatiran. Kekuatiran adalah si pencuri yang lihai dan penuh tipu daya, sehingga korban-korbannya bahkan tidak mengetahui bahwa rasa damai, waktu, energi, mental, dan kesehatan emosional mereka telah dirampok.

Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “Kekuatiran ” adalah merimnao, yang berarti “Kekuatiran, digoda” atau “mempunyai pikiran yang mendua” (merizo, “untuk membagi” – nous, “pikiran”).  _ Kekuatiran merupakan suasana hati yang memecah pikiran antara apa yang baik dan patut untuk dilakukan dengan apa yang merusak. _Merasa kuatir adalah memblokir arus energi kreatif dalam hidup kita.

Konsep tentang Kekuatiran disampaikan Alkitab dengan berbagai kata dan ungkapan, seperti: Kesal, cemas, susah hati, berat hati, tanpa rasa damai, digoda, disusahkan, menjadi sedih, putus asa. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” (Mazmur 139:23).

Kekuatiran bukanlah kelemahan yang diwariskan, sesungguhnya kekuatiran adalah dosa yang tidak menyenangkan Allah, karena sifat yang mendasarinya adalah: Tidak Percaya (Yes. 58:11). Tidak Taat (Mat. 6:25-31). Merusak (1 Kor. 6:19-20). Tidak Hormat (Mat. 5:16). Karena Allah mengatakan “Jangan Kuatir” ini jelas bahwa Allah tidak menghendaki kita tidak kuatir.

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (Matius 6:31)

 

*image by : https://i0.wp.com/www.lindachristianti.com/wp-content/uploads/2017/09/kuatir-1.jpg?fit=841%2C642&resize=350%2C200

Share! jika renungan ini memberkatimu.