Instagram

Kesabaran

Arahkan dirimu pada kesabaran dari pada kenyamanan, dan kepada memikul salib daripada kesenangan- Thomas A Kempis

Dunia kita adalah dunia tidak memiliki kesabaran. Segala sesuatu bisa mungkin dilakukan dengan segera dan cepat. Mereka yang memiliki kesabaran dikatikan dengan orang-orang yang tidak terlalu berhasil dan karena itu mempunyai banyak waktu dalam hidupnya. Ada harga yang harus dibayar akhirnya untuk menghidupi ketidaksabaran ini. Kekecewaan, kesediah, stress, frustasi, ketidakbahagiaan adalah beberapa hal yang akan menyertai kebudayaan tidak sabar. Di sisi lain, orang yang percaya juga tidak kebal dengan kekacauan ini.

Kita perlu membedakan antara kesabaran yang sejati sebagai salah satu kebajikan Kristen dengan acuh tak acuh. Acuh tak acuh secara fenomena bisa sangat menyerupai kesabaran, suatu sikap yang sangat tidak terganggu dengan sesuatu yang tak kunjung tiba. Namun ini bukanlah kesabaran yang diajarkan oleh kitab suci. Dalam kesabaran ada penantian dan pengharapan. “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:7), sementara orang acuh dan tak acuh  memang tidak ada ekspektasi. Kita baru dikatakan memiliki kesabaran jika itu dikatakan kesabaran menantikan apa yang benar-benar kita banggakan.  Alkitab juga mengajarkan bahwa kesabaran tidak pasif sifatnya. Yesus dengan tekun dengan sabar menanggung bantahan dari orang-orang yang berdosa yang melawan Dia dan tidak menjadi lemah dan putus asa (Ibr 12:3). Yakobus juga mengajarkan bahwa ujian iman kita menghasilkan ketekunan dan kesabaran (Yak 1:3-4).

Tuhan Yesus Memberkati!

Share! jika renungan ini memberkatimu.