Instagram

Kesombongan Awal Kehancuran

Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. — Amsal 11:2

Dalam perjalanan saya menuju karier, saya ingat pernah mendengar teman dan keluarga berkata, “Orang tuamu pasti sangat bangga!” Atau setelah pencapaian atau kelulusan besar, orang akan berkata, “Kamu harus bangga pada dirimu sendiri!”

Meskipun kita mungkin merasa senang dengan pencapaian kita, kita perlu berhati-hati agar tidak terlalu menekankan upaya kita sendiri. Ketika saya melihat kembali pencapaian saya, tidak pernah ada waktu ketika saya benar-benar sendirian. Apakah itu dukungan finansial dari anggota keluarga atau dukungan penuh kasih dan doa dari orang tua dan teman, semua yang saya lakukan merupakan upaya bersama.

Kitab Amsal mengingatkan kita bahwa kesombongan adalah jalan yang berbahaya. Dan meskipun sangat tepat untuk merasa puas dan bersyukur atas pencapaian kita, kita harus ingat bahwa kita belum mencapai tempat-tempat ini sendirian.

Kristus menunjukkan kepada kita jalan yang lebih baik. Filipi 2:6-8 memberi tahu kita bahwa Kristus “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang digunakan untuk kepentingannya sendiri; lebih tepatnya . . . Dia merendahkan diriNya dengan menjadi taat sampai mati—bahkan mati di kayu salib!”

Kerendahan hati Yesus menunjukkan bahwa meskipun Dia mencapai hal-hal yang luar biasa, Dia tidak pernah memuliakan diriNya sendiri. Apa pun yang Dia capai, Dia melakukannya karena kepatuhan kepada Baba dan dalam pelayanan kepada orang lain.

Share! jika renungan ini memberkatimu.