Instagram

Perempuan Beserta Rumahnya

Perempuan Beserta Rumahnya

Sojourner Truth. Lahir dengan nama asli Isabella Bomfree, Sojourner Truth merupakan salah satu perempuan kulit hitam paling berpengaruh dalam sejarah perbudakan di Amerika Serikat. Dulunya ia adalah seorang budak di Ulster County, New York, pada tahun 1797.

Selama menjadi budak, Sojourner sudah diperdagangkan sebanyak empat kali dan selalu ditempatkan pada pekerjaan fisik yang berat, serta memiliki hukuman yang kejam.

Melihat kondisi perbudakan yang kian menyiksa dan kekhawatirannya pada anak-anak, pada 1827 sebelum New York meresmikan hukum untuk membebaskan perbudakan, Sojourner memutuskan untuk melarikan diri bersama salah satu anaknya yang bernama Sophia. Mereka berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk mendapatkan pertolongan.

Sojourner kemudian ditolong oleh keluarga Van Wageners, seorang abolitionist. Setelah menceritakan hal yang dialami, keluarga Wageners kemudian membantu Dia mendapatkan kebebasan dengan membayar uang senilai 20 dolar AS. Mereka juga membantu Sojourner untuk menuntut majikannya yang merupakan orang kulit putih karena telah menjual Peter, anak laki-lakinya yang berusia lima tahun secara ilegal sebagai budak di Alabama.

Suatu prestasi luar biasa bagi seorang wanita Afrika-Amerika pada masa itu. Mengetahui dia tidak dapat membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan Tuhan, akhirnya pada awal 1830-an Sojourner memilih bergabung dalam sebuah organisasi rohani dan menjadi pembicara yang menarik perhatian.

Bergabung dalam organisasi rohani membuat Sojourner menjadi sosok yang lebih religius. Ia juga percaya bahwa keberanian yang selama ini miliki memang merupakan karunia Tuhan. Itu yang menjadi alasan utama ia mengganti namanya menjadi Sojourner Truth.

Raja Salomo, penulis Amsal “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” (Ayat 1). Ayat ini menunjukkan hikmat yang Tuhan berikan kepada mereka yang mau mendengarkan.

Lantas Bagaimana seseorang membangun rumah dengan kebijaksanaan?

Dengan mengatakan “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29).

Sojourner memiliki “benteng yang aman” yaitu Amsal 14:26 “Dalam takut akan Tuhan ada ketentraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anakNya. Di masa yang penuh gejolak, berkat hikmat Tuhan telah tercurahkan bagi Sojourner. Dirinya beserta anak-anaknya bisa bebas dari perbudakan tersebut. Kita mungkin tidak perlu menyelamatkan anak-anak kita dari sebuah ketidakadilan. Tetapi, kita dapat membangun rumah di atas fondasi yang sama dengan yang dilakukan oleh Sojourner melalui hikmat Tuhan yang diberikan kepadanya—Linda Washington.

Jika rumah diatur oleh perempuan bijak, maka keluarganya akan bertumbuh dengan sehat dan harmonis. Namun, perempuan yang bodoh akan merusak keluarganya sendiri, karena memang tidak bisa mengurus dengan baik, bahkan tidak bertanggung jawab. Hanya perempuan bijak yang mampu membangun rumahnya dengan kokoh. Amin.

 

Sebagian Cerita Dikutip dari Kumparan.com

Share! jika renungan ini memberkatimu.