Instagram

Pernyataan Kebenaran

Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. (Yohanes 24-25)

Pernyataan kebenaran berarti tidak ada lagi konsep yang keliru, kesan yang palsu dan penilaian yang salah dalam kehidupan; itu berarti bebas dari semua tipuan ini. Meskipun demikian, pengalaman kita mengenai pernyataan kebenaran dapat mengakibatkan sikap sinis dan suka mencela orang lain. Akan tetapi, pernyataan kebenaran yang berasal dari Allah memampukan kita melihat orang-orang sebagai mana adanya, tanpa sikap sinis atau kecaman sengit. Banyak hal dalam kehidupan yang menimbulkan luka, duka atau nyeri terbesar bersumber pada kenyataan bahwa kita menderita oleh khayalan kita sendiri. Kita tidak mempercayai sesama kita berdasarkan kenyataan, dengan melihat satu sama lain seadanya; kita justru meyakini gagasan kita yang keliru tentang sesama kita. Menurut pemikiran kita, segala sesuatu itu menyenangkan dan baik, atau jahat dan buruk.

Menolak untuk menerima pernyataan kebenaran merupakan penyebab penderitaan manusia. Dan beginilah penderitaan itu terjadi – jika kita mengasihi seseorang, tetapi tidak mengasihi Allah, kita menuntut kesempurnaan dan kebenaran penuh dari orang itu, dan apabila kita tidak mendapatkannya maka kita menjadi kejam dan ingin membalas dendam; namun kita menuntut dari seseorang manusia sesuatu yang mungkin tidak dapat kita berikan. Hanya ada pada satu Pribadi  yang dapat memuaskan sepenuhnya sampai kepada kedalam  hati manusia yang terluka, dan Tokoh itu ialah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan tidak suka berkompromi dengan setiap hubungan manusiawi karena Dia tahu bahwa setiap hubungan yang tidak dilandasi kesetiaan kepada diri-Nya akan berakhir dengan bencana. Tuhan tidak mempercayai siapa pun, dan tidak pernah menaruh iman-Nya pada manusia, namun Dia tidak pernah bersikap curiga atau kesal. Keyakinan Tuhan kepada Allah, dan kepada kemampuan anugerah Allah bagi setiap orang, sedemikian sempurnanya sehingga Dia tidak pernah putus asa, tidak pernah melepaskan harapan kepada siapa pun. Jika kepercayaan kita diletakkan kepada manusia, maka kita akan merasa putus asa terhadap setiap orang.

Share! jika renungan ini memberkatimu.