Instagram

Tunduk Kepada Displin

Supaya dapat memetik manfaat yang sebesar-besarnya dari displin kesusahan, kita perlu tunduk kepada displin tersebut. Penulis surat Ibrani mengingatkan kita bahwa dalam keluarga manusia, anak-anak menghormati Ayah yang mendisplinkan mereka. Ini, tentu saja, sulit terlihat dalam keluarga dimana displin yang dilakukan sang ayah adalah karena alasan egois – yaitu berasal dari kemarahan dan ketidaksabaran-bukanya keluar dari kasih demi kebaikan sang anak. Bagaimanapun, dalam analoginya antara displin orang tua manusia dan displin Tuhan, penulis surat Ibrani mengasumsikan tipe Ayah pada umumnya.

Maksud penulis kitab Ibrani adalah jika kita menghormati displin ayah kita, betapa kita haus tunduk kepada displin Allah. Displin ayah kita terbaik sekalipun tidakalah sempurna, baik dalam motivasi maupun aplikasinya tetapi displin Tuhan itu sempurna, benar-benar sesuia dengan kebutuhan kita.

Lalu bagimana kita tunduk kepada displin Allah? Secara negatif, ini berarti kita tidak menjadi marah kepada Tuhan, atau menuduh bahwa Dia tidak adil, ketika keadaan yang sangat sulit terjadi dalam hidup kita. Saya cendrung menulis, “tidak terus-terus marah,” bukan “tidak menjadi marah kepada Tuhan,” untuk memungkinkan reaksi awal jangka pendek kita terhadap Allah sekalipun adalah dosa yang perlu kita bertobat daripadanya. Meskipun kemarahan tersebut mungkin adalah reaksi emosional, tetap saja adalah tuduhan bahwa Allah tidak adil. Tentu saja ini adalah dosa.

Tuhan Yesus Memberkati!

Share! jika renungan ini memberkatimu.